
Kalau lo suka sepak bola dan pernah denger nama Hazard, kemungkinan besar pikiran lo langsung lompat ke Eden Hazard—eks bintang Chelsea dan Real Madrid. Tapi tunggu dulu. Di balik spotlight itu, ada satu sosok yang konsisten ngasih performa solid, kerja keras, dan loyalitas tinggi, tapi jarang kena sorot kamera. Dia adalah Thorgan Hazard, adik dari Eden, tapi dengan jalur karier yang lebih tenang, lebih taktis, dan lebih stabil.
Thorgan emang bukan tipikal pemain yang nyita headline tiap minggu. Tapi lo lihat statistiknya, lo tonton permainannya, dan lo bakal sadar: ini pemain penting banget buat timnya. Dia punya teknik tinggi, visi bagus, fleksibel di banyak posisi, dan selalu ngegas maksimal walau gak banyak gaya.
Awal Karier: Gak Mau Cuma Jadi “Adiknya Eden”
Thorgan Hazard lahir di La Louvière, Belgia, tahun 1993. Dia tumbuh di keluarga sepak bola. Bapaknya mantan pemain, ibunya juga pernah main bola, dan tentu aja, kakaknya—Eden—udah duluan masuk radar bintang muda Belgia.
Tapi justru karena itu, Thorgan bertekad buat bikin nama sendiri, bukan cuma jadi “shadow” dari Eden. Dia mulai karier di akademi Lens di Prancis, lalu sempat dibeli Chelsea bareng Eden Hazard tahun 2012. Tapi kalau Eden langsung jadi bintang di Stamford Bridge, Thorgan malah dijalanin jalur pengembangan lewat pinjaman ke Belgia dan Jerman.
Alih-alih frustrasi, dia ambil itu sebagai tantangan. Dan perlahan, dia buktikan bahwa dia juga bisa bersinar, bahkan di jalur yang jauh dari glamor Premier League.
Meledak di Bundesliga: Gladbach Jadi Rumah Kedua
Peminjaman ke Borussia Mönchengladbach adalah turning point. Dari awalnya status pinjaman dari Chelsea, Gladbach langsung jatuh cinta dan mempermanenkan dia. Di sana, Thorgan berkembang jadi pemain inti, bahkan jadi mesin kreatif di lini tengah dan sayap.
Statistiknya bagus banget: gol, assist, pergerakan antar lini, semua on point. Dia bahkan sempat bikin lebih dari 10 gol dan 10 assist dalam satu musim—sesuatu yang gak gampang di Bundesliga. Dan gaya mainnya? Efektif, direct, tapi tetap elegan. Gak terlalu flashy kayak Eden, tapi lebih disiplin dan sering jadi penyeimbang tim.
Satu hal yang bikin dia disukai pelatih: versatilitas. Mau ditaruh sebagai winger? Bisa. Main di tengah? Bisa. Kadang malah ditarik ke dalam buat bantu build-up. Intinya, Thorgan bukan pemain yang rewel soal posisi. Dia main di mana dibutuhin.
Pindah ke Dortmund: Level Naik, Ekspektasi Ikut Naik
Tahun 2019, performa gokil Thorgan akhirnya ngundang perhatian klub besar. Borussia Dortmund datang dan menebus dia dengan harga sekitar €25 juta. Di sinilah dia masuk ke panggung yang lebih besar.
Dan lagi-lagi, dia langsung nyetel. Di musim pertamanya, dia cetak 7 gol dan 13 assist di Bundesliga. Dia jadi pelengkap sempurna buat trio Sancho–Haaland–Reus yang saat itu jadi mimpi buruk pertahanan lawan.
Tapi, kayak banyak pemain lainnya, dia sempat kena fase penurunan performa karena cedera dan rotasi. Persaingan di Dortmund keras banget, dan kehadiran pemain muda lain bikin menit mainnya makin terbatas. Tapi yang keren dari Thorgan? Dia gak pernah drama. Gak ada kode cabut, gak ada unfollow klub, gak ada media ribut.
Dia tetap profesional, siap kapan pun dipanggil, dan tetap jadi opsi tepercaya di saat-saat penting.
Timnas Belgia: Andalan Diam-Diam di Generasi Emas
Thorgan juga bagian dari generasi emas Belgia, bareng Eden, De Bruyne, Lukaku, Courtois, dan lain-lain. Tapi dari semua nama itu, dia mungkin yang paling jarang disebut, padahal kontribusinya gak kecil.
Di Euro 2020, dia bahkan nyetak gol penentu ke gawang Portugal di babak 16 besar. Tendangannya dari luar kotak penalti langsung jadi highlight turnamen. Dia juga rutin main di sayap kiri atau sebagai wing-back, tergantung skema pelatih.
Bedanya dengan Eden? Thorgan lebih disiplin, lebih fokus bantu pertahanan, dan punya stamina luar biasa buat naik-turun sepanjang pertandingan. Buat pelatih kayak Roberto Martinez, dia jadi senjata rahasia yang bisa dipakai di berbagai posisi.
Dan yang paling penting: dia gak pernah baper jadi adik Eden. Mereka justru kompak banget. Bahkan Thorgan sendiri pernah bilang, “Kalau bukan karena Eden, saya gak akan dapat inspirasi untuk kerja sekeras ini.”
Gaya Main: Clean, Cerdas, dan Serbaguna
Thorgan Hazard bukan tipe pemain yang narik perhatian karena nutmeg atau selebrasi liar. Dia lebih ke pemain taktis yang ngerti ritme permainan. Dia punya kontrol bola bagus, bisa ambil keputusan cepat, dan tahu kapan harus langsung shoot, kapan harus kirim umpan silang, dan kapan harus tarik tempo.
Dia juga jago banget eksekusi bola mati—free kick-nya terarah, crossing-nya tajam, dan dia punya kemampuan membaca pergerakan rekan tim dengan akurat. Gak banyak gaya, tapi efektif.
Dan yang paling penting: dia jarang bikin blunder. Lo bisa percaya dia buat jaga sisi lapangan atau bantu transisi.
Masa Sekarang: Masih Bisa Bangkit?
Setelah beberapa musim di Dortmund, menit mainnya makin menurun. Dia sempat dipinjamkan ke PSV Eindhoven di Belanda, dan kembali dapat ritme bermain. Di usia 31, dia mungkin bukan lagi pemain utama di klub besar, tapi dia masih bisa kasih kontribusi signifikan.
Buat tim-tim mid-table Eropa atau Liga Top 5 yang butuh pemain berpengalaman, Thorgan masih opsi menarik. Dia gak banyak cedera berat, masih punya speed, dan yang paling penting: pengalaman di level tinggi udah mateng.
Dia juga tetap masuk radar timnas Belgia, terutama karena fleksibilitas taktis dan attitude yang selalu profesional.
Warisan: Bukan Eden 2.0, Tapi Thorgan 1.0
Thorgan Hazard udah terlalu sering dibandingin sama Eden. Tapi yang harus dilihat adalah: dia sukses bikin jalannya sendiri. Dia gak numpang nama kakak, gak cari shortcut, dan selalu bangun karier lewat kerja keras.
Dari Bundesliga ke timnas, dari Gladbach ke Dortmund, Thorgan selalu ngasih 100%. Dia adalah contoh bahwa gak semua pemain harus viral buat bisa punya pengaruh.
Buat fans Belgia dan Bundesliga, dia tetap jadi nama yang akan diingat sebagai pemain loyal, serba bisa, dan selalu profesional.